Netizen Indonesia Perlu Belajar Kesantunan Berbahasa di Dunia Nyata dan Maya

Kesantunan Berbahasa

Netizen Indonesia
Image By BLT Pers 2021


Hallo semuanya jumpa lagi dengan BLT Pers, kali ini saya akan menyampaikan Perlunya Kesantunan Berbahasa di Dunia Nyata maupun Maya. Akhir-akhir ini banyak sekali pengguna media sosial di Indonesia, itu artinya semakin banyak Masyarakat Indonesia yang sudah melek teknologi. Hal tersebut tentunya menimbulkan efek Positif dan Negatif. Secara umum efek positif terhadap dunia maya (teknologi) adalah dapat menambah Informasi secara mudah, dulu belum ada internet jika cari informasi itu susah, kalau sekarang mau cari informasi tinggal tanya mbah Google, maka hampir semuanya ada. Itu adalah efek Positif dari Internet. Selanjutnya adalah efek negatif dari Internet. Semakin anda sering berselancar di dunia maya, maka informasi secara otomatis akan bertambah. Hal tersebut memang baik buat anda jika informasi tersebut bersifat positif. Perlu kita ketahui yang namanya informasi pasti ada positif dan negatif. Jika anda sering membaca informasi negatif besar kemungkinan otak anda akan menyimpan informasi tersebut. Pelan-pelan hal tersebut bisa mempengaruhi gaya bicara maupun gaya hidup anda.


Gaya Bicara

Sejatinya bahasa adalah sistem komunikasi yang bersifat Arbiter (mana suka) dan Konvensional (Kesepakatan). Yang sering terjadi perubahan adalah sistem Arbitrer, misal dulu belum ada kata ALAY, TITI DJ, OTW, dan lain sebagainya. Itu hanyalah contoh beberapa perubahan kata yang masih lazim dalam tingkat kesopanan. Perubahan kata, bisa saja mempengaruhi gaya bicara dan penggunaannya dalam sebuah kalimat. Jika penggunaan kata sering terlihat serta banyak digunakan oleh penutur (pengguna) maka model kata tersebut secara psikologis akan masuk ke dalam pola komunikasi anda. Itu adalah pola perubahan gaya hidup dan gaya komunikasi tiap periode dan parahnya lagi sampai saat ini belum ada penyaring penggunaan gaya komunikasi yang tidak baik (menggunakan kata-kata tidak sopan). Padahal dengan perubahan komunikasi (gaya bicara) sangat berpengaruh terhadap tingkat kesopanan seseorang. Lalu bagaimanakah cara menjaga kesantunan berbahasa baik di dunia nyata maupun maya. Berikut rangkumannya.

1.  Prinsip Kebijaksanaan, Para penutur hendaknya meminimalisir keuntungan pada diri sendiri dan memaksimalkan pihak lain. "Catatan jika pihak lain SOPAN"

Contoh pengggunaan prinsip kebijaksanaan 

Tuan Rumah : "Silahkan makan dulu Nak! Tadi kami sudah mendahului"

Tamu : "Wah, saya jadi tidak enak, BU."

Contoh tersebut mencerminkan bahwa, Tuan Rumah (Penutur)  meminimalisir keuntungan pada diri sendiri dan memaksimalkan lawan tutur (Tamu). Hal tersebut tentunya, perlu dilestarikan asalkan penutur dan lawan tutur saling menjaga cara bicaranya (komunikasi).


2. Prinsip Kedermawanan, Penutur diharapkan dapat menghormati orang lain

Contoh

Anak Kos A : "Sini saya cucikan pakaian kotormu. Pakaianku tidak banyak yang kotor kok"

Anak Kos B : "Tidak usah, Mba. Nanti siang saya mau mencuci juga kok."

Dari contoh diatas dapat disimpulkan jika Anak Kos A, berusaha memaksimalkan keuntungan pihak lain dengan cara komunikasi yang sopan dan baik. Serta Anak Kos B menjawab dengan sopan. Model kedermawanan tersebutlah yang harus ditingkatkan di era sekarang.


3. Prinsip Penghargaan, Penutur dapat dianggap santun jika selalu memberi penghargaan terhadap lawan tutur (pihak lain).

Contoh

Guru A : "Bu, tadi saya sudah memulai pembelajaran praktek bermain gitar."

Guru B : "Oya, tadi aku melihat cara mencontohkan bermain gitar yang anda lakukan baik sekali."

Pemberitahuan Guru A terhadap rekan gurunya ditanggapi dengan sangat baik, bahkan disertai dengan pujian terhadap Guru B. Contoh diatas perlu sekali diterapkan dalam kehidupan, karena menanggapi orang yang sedang berbicara itu sikap yang baik, apalagi ditambah dengan pujian. 


4. Prinsip Kesederhanaan, Penutur hendaknya bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap diri sendiri.

Contoh

Ibu A : "Nanti, kamu yang memberikan sambutan ya."

Ibu B : "Waduh, nanti grogi aku."

Pada contoh diatas Ibu B tidak menjawab dengan "Oh tentu saja, memang itu kelebihanku". Ibu B mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri dengan mengatakan "Waduh, nanti grogi aku."


5. Prinsip Kecocokan, para penutur diharapkan dapat saling membina kecocokan atau kemufakatan dalam kegiatan bertutur. Prinsip ini sekarang sudah mulai memudar atau bisa dikatakan sangat memudar. 


6. Prinsip Kesimpatian, Para penutur diharapkan dapat memaksimalkan sikap simpati antara pihak yang satu dengan pihak lainnya.

Contoh

Mahasiswa A : "Mas, besok saya akan ujian Tesis.

Mahasiswa B : "Wah, selamat ya semoga sukses, tetap semangat."

Contoh diatas mencerminkan sikap saling menghargai, sikap itulah yang sangat penting untuk kita terapkan pada kehidupan sosial. 


Itulah Prinsip yang perlu dilestarikan dalam komunikasi. Jika prinsip tersebut diterapkan di dunia nyata maupun maya, saya berasumsi kehidupan bersosial di dunia (umumnya) dan di Indonesia (khususnya) akan damai dan indah. Demikian yang dapat saya sampaikan, jika ada kritik dan saran silahkan berkomentar.


Penulis Pandu Rizki Aji_BLT Pers 2021

Artikel Selanjutnya Artikel Sebelumnya
Belum Ada Komentar :
Tambahkan Komentar
Comment url
Post Terkait :
Netizen Indonesia